Selasa, 20 Februari 2018

Stop Membebek !!! Valentine Day, Bukan Hari Raya Islam & Bukan Pula Budaya Islam




Tanggal 14 Februari merupakan sebuah momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat dunia pada saat ini. Walhasil, tanggal 14 Februari dianggap sebagai hari kasih sayang oleh masyarakat dunia pada umumnya baik itu muslim maupun non muslim. Warna merah jambu, kartu ucapan “BE MY VALENTINE”, memberikan coklat dan bunga, tukar kado, kencan yang di akhiri dengan bercinta, semua itu merupakan aktifitas  yang terjadi pada saat Valentine’s Day. Dan dengan berbagai simbol-simbol lainnya.

Bahkan VD sampai keliling dunia. Dalam rangka merayakan Valentine’s Day di Filipina pada tahun 2004,  sebanyak 5.112 pasangan melakukan ciuman, pada tahun 2009 di Meksiko Ciuman massal 40.000 pasangan, pada tahun 2009 Amerika Serikat mengadakan Kompetisi ciuman terlama (www.timesofmalta.com), dan pada tahun 2010 AS mengadakan Kontes foto ciuman (PopPhoto.com). AS menjadikan pekan Valentine’s Day sebagai The National Condom Week (Pekan Kondom Nasional)/SAFE SEX, Inggris menjadikan 14 Februari sebagai The National Impotence Day (Hari Impoten Nasional), sementara survei di Thailand pada tahun 2007  menunjukan bahwa 33% dari 1578 gadis belasan tahun siap berhubungan seks bila pacar mereka memintanya.


Nah...bagaimana di Indonesia???
Penjualan kondom besar-besaran dalam rangka perayaan valentine day, bahkan memberikan kepada konsumennya secara gratis, pernikahan massal 30 pasangan, den berbagai kegiatan lain yang hingga akhirnya melegalkan seks bebas. Tidak heran tingkat aborsi  dari tahun ketahunpun semakin meningkat. 

Seperti itukah makna kasih sayang ???
Kalau didefinisikan, menurut bahasa “Valentine’s Day” (Bahasa Inggris) berarti kasih sayang, sedangkan menurut istilah “Valentine’s Day” berarti hari yang diasosiasikan dengan para pencinta (pria dan wanita) yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk romantis, sebagai ungkapan rasa cinta atau bisa di sebut sebagai hari percintaan.  So, sangat wajar ketika Valentine’s Day dijadikan sebagai ajang untuk melakukan seks bebas. Dengan Valentine’s Day pun mereka menghalalkan seks bebas.


Sejarah Valentine’s Day

Tanggal 13-18 Februari merupakan hari dimana orang-orang Romawi melakukan Perayaan Lupercalia, sementara pada tanggal 13-14 Februari mereka (orang-orang Romawi) mengkhususkannya sebagai hari untuk persembahan kepada Dewi Cinta dan Juno Februata. Walhasil, Lupercalia dianggap sebagai dewa kesuburan, yang berkaki kambing dan berkepala kambing yang dianggap sebagai lambang kesuburan (reproduksi) atau lambang seks.


Lupercalia juga diyakini oleh orang-orang Romawi sebagai nama lain dari Dewa Pan (Namrudz) yang menikahi Dewi Aphrodite yang melahirkan anak rupawan yang dinamakan Eros (Cupid) yang dianggap sebagai dewa cinta yang selalu membawa panah cinta. Dan diceritakan bahwasanya Eros (Cupid) menggauli ibunya sendiri yakni Dewi Aphrodite karena ibunya sendiri tertarik dengan ketampanan yang dimiliki oleh Eros (Cupid).
Pada hari itu, para pemuda mengundi nama gadis secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan objek hiburan.

Karena tidak bisa  menghilangkan tradisi berhala Romawi dalam umat Kristen maka, Paus Gelasius menetapkan bahwasanya tanggal 14 Februari merupakan hari raya Nasrani pada tahun 496M. 

Padahal Rasulullah SAW telah melarang untuk bertasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang-orang kafir pada suatu yang menjadi ciri khas kekafiran mereka). Rasulullah SAW bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

(HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatwanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)


Syaikhul Islam berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengkafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta’ala:

  
ÈÊÎÇ... 3 BÏ]÷kåNö ùs*ÎR¯mç¼ BiÏZ3äNö ƒtGtqu;°lçN ruBt`... 4
“Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).” (Al-Iqtidha’: 1/237)

Imam al-Shan’ani rahimahullaah berkata, “Apabila menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan meyakini supaya seperti mereka dengan pakaian tersebut, ia telah kafir. Jika tidak meyakini (seperti itu), terjadi khilaf di antara fuqaha’ di dalamnya:

“Di antara mereka ada yang berkata menjadi kafir, sesuai dengan zahir hadits; Dan di antara yang lain mereka berkata, tidak kafir tapi harus diberi sanksi peringatan.”

(Lihat: Subulus salam tentang syarah hadits tesebut)

Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan:

“Bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan”. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Menyerupai (mereka) akan menunbuhkan kasih sayang, kecintaan, dan pembelaan dalam batin. Sebagaimana kecintaan dalam batin akan melahirkan musyabahah (ingin menyerupai) secara zahir.”

Beliau berkata lagi dalam menjelaskan ayat di atas:
“Maka Dia Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan, tidak akan didapati seorang mukmin mencintai orang kafir. Maka siapa yang mencintai orang kafir, dia bukan seorang mukmin. Dan penyerupaan zahir akan menumbuhkan kecintaan, karenanya diharamkan.”

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:
“Hari raya dalam Islam hanya dua yaitu hari raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri”.
(HR. Ahmad)

Namun sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang di penjuru dunia yang menyerupai orang kafir dalam kemaksiatan itu. Mereka merubah nuansa Idul Fitri dan Idul Adha sebagai musim ketaatan dan syukur menjadi musim bermaksiat dan kufur nikmat, yaitu dengan mengisi malam-malamnya dengan musik-musik, nyanyir-nyanyi, mabuk-mabukan, pesta yang bercampur laki-laki dan perempuan, dan bentuk pelanggaran-pelanggaran lainnya. Semua ini disebabkan mereka meniru cara orang kafir dalam merayakan hari besar mereka yang diisi dengan menuruti syahwat dan maksiat.
Semoga Allah membimbing kita kepada kondisi yang lebih diridhai-Nya, tidak menyimpang dari aturan Islam dan tidak bertasyabbuh dengan kaum kafir dalam acara-acara mereka.


Semoga bisa bermanfaat dan senantiasa diberikan hidayah olehNya.

Amin ya Rabbal’alamin...
Wallahua’lam Bishawab...

Nb: di ambil dari berbagai sumber.

By
NR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stop Membebek !!! Valentine Day, Bukan Hari Raya Islam & Bukan Pula Budaya Islam

Tanggal 14 Februari merupakan sebuah momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat dunia pada saat ini. Walhasil, tanggal 14 Februar...