Beras
miskin: walaupun berulat banyak, tapi harus tetap bersyukur
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh,
Ehmmmm..sangat
memilukan hati...
Bantuan dari
pemerintah yang ingin menolong masyarakatnya agar tidak terjadi kelaparan,
Dengan
memberikan beras miskin yang ternyata memiliki banyak ulat di dalamnya dan
berbau tidak enak,
Maka,
masyarakat yang memang merasa sangat butuh, mau tidak mau harus memakannya,
Entah,
gizinya masih ada atau sudah berkurang, atau mungkin sudah tidak ada lagi dan
tidak layak untuk di konsumsi.
Ukhtyfillah
rahimakumullah,,,
Sebenarnya
ini kurang kontrol dari pihak pemerintah atau memang sengaja beras miskin yang
berulat dan berbau tidak enak ini diprogramkan khusus untuk masyarakat
Indonesia pada umumnya khususnya di Sape.
Jika memang
kurang kontrol, maka di harapkan kepada pihak pemerintah pusat, daerah, dan
desa yang terlibat secara langsung terkait pemberian beras miskin yang konon
katanya untuk masyarakat yang tidak mampu, untuk bisa melihat kembali/
meratifikasi beras miskin, sehingga mungkin keinginan dari pemerintah yang
ingin menolong masyarakatnya untuk memberikan gizi demi terwujudnya masyarakat
yang sehat dan sejahtera.
Namun, jika
ini adalah program khusus yang hingga akhirnya beras tersebut tidak perlu di
kontrol, maka perlu di pertanyakan, bagaimana program pemerintah untuk bisa
memberikan kesehatan dan kesejahteraan terhadap masyarakatnya.
Dan hal ini
adalah suatu sikap pemerintah yang tidak memiliki peri-kemanusiaan, sehingga
masyarakat yang tidak mampu di buat sakit dengan pemberian beras miskin yang
berulat dan berbau tidak enak.
Allah SWT.
berfirman: artinya:
“dan
(ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri
yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya
yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:
“Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku
paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS.Al-Baqarah/2:126)
juga:
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya” (QS. Al-A’râf/7: 96).
Dari ayat di atas maka dapat disimpulkan, bahwa negara memiliki
kewajiban penuh untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat hingga ia
wajib untuk mengontrol berbagai instansi pemerintahan.
Dan selayaknya seorang kepala negara/ daerah/desa mengembalikan segala
urusannya terhadap hukum Allah dan RasulNya yang mengakibatkan masyarakat-pun
mengikutinya sehingga turunlah rahmat dari Sang Khalik.
Juga
firmanNya, artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Tentunya
Ulil Amri yang dimaksud disini adalah yang menembalikan segala urusannya
terhadap hukum Allah dan RasulNya.
Jika
kebijakannya tidak sesuai dengan hukum Allah dan RasulNya maka janganlah
mengikutinya/ mematuhinya.
Rasulullah
saw. bersabda yang intinya: “ikutilah Allah dan RasulNya, maka anda akan
menjadi orang yang menang”. (HR.MUSLIM).
Semoga
CafetaIslamRia bermanfaat dan menjadi pintu hidayah serta para penguasa
senantiasa diberikan hidayah olehNya hingga masyarakat bisa mendapatkan beras
miskin yang tidak berulat dan berbau untuk menjadi makanan yang layak untuk
dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya Sape.
Amin ya
Rabb..
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh,
Wallahua’lam
bishawab.
By
NR



