Selasa, 14 November 2017

***CafetaIslamRia***35***

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

Para umahat dan ukhtyfillahrahimakumullah...
Alhamdulillah CafetaIslamRia pada edisi ini, membahas khusus untuk para umahat,,,
Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa di ambil ibrahnya...
Amin ya Rabb...

Ada suatu kisah pada masa Rasullah Saw. dimana pada saat itu Fatimah ra. ingin membeli budak agar bisa meringankan pekerjaan rumah tangganya. Namun, sebelumnya beliau yakni Fatimah ra. mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepada ayahnya yakni nabi Muhammad Saw.

Kebetulan, sang ayah mendapatkan seorang budak perempuan. Fatimah berpesan pada Aisyah RA tentang keinginannya mendapatkan pembantu di rumahnya. Aisyah RA pun menyampaikannya. 
 Namun bagaimana jawaban Rasulullah?  Beliau mendatangi putrinya, dan berkata dengan perasaan haru. “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta? Bila hendak naik pembaringan, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu.”
(HR. MUSLIM)
Dari hadist dan atau kisah di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan  bahwasanya pekerjaan RT lebih baik dikerjakan sendiri oleh ibu RT dan atau di bantu oleh suami-nya sendiri, karena Rasulullah Saw. pernah membantu Aisyah ra. dalam urusan rumah tangganya. Berikut kisahnya:

Hari itu, Rasulullah sedang menemui sejumlah tamu yang tidak lain adalah para sahabat beliau. Tiba-tiba terdengar suara piring pecah. Ternyata Aisyah baru saja memukul piring berisi makanan yang dibawa oleh pembantu Zainab untuk disuguhkan kepada Rasulullah. Piring itu pecah dan makanannya pun jatuh.

Menyaksikan insiden tersebut Rasulullah tidak marah. Beliau tidak merasa harga dirinya turun. Beliau tidak merasa kehormatannya dipermalukan. Beliau tidak merasa khawatir disebut sebagai suami yang tidak mampu mendidik istrinya untuk mengendalikan emosi. Sama sekali tidak.
Rasulullah mendekati mereka dengan tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Lalu beliau memunguti makanan dari kurma tersebut dan meletakkannya di sisa-sisa piring, kemudian membawanya ke majelisnya semula untuk dimakan bersama para tamu.

Sumber: (http://keluargacinta.com/ini-yang-dilakukan-rasulullah-ketika-aisyah-memecahkan-piring-di-depan-tamu/)

Aisyah ra berkata; Rasulullah saw selalu membantu pekerjaan rumah tangganya. Dan bila tiba waktu shalat beliau pergi untuk shalat.` (HR Bukhari dan Tirmidzi).


Para umahat, ukhtyfillah rahimakumullah, dan pembaca CafetaIslamRia yang insyaAllah dirahmati Allah SWT...

Pernahkah kita sadari  bahwa ketika ada yang membantu kita terkait urusan RT (mencuci baju, memasak, mengurus keuangan, mengurus anak-anaknya, mengurus suaminya, bersih-bersih rumah, dll...), entah ibu kita, ayah saudari/ra, atau mungkin ada pembantu RT maka rasa sayang, cinta, dan rindu para umahat, suami, dan anak-anak akan terbagi dengan orang-orang yang telah membantu URT kita.

Maka benarlah, apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. kepada anaknya Fatimah ra. . “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta? Bila hendak naik pembaringan, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu.”
(HR. MUSLIM)

Karena itulah yang terbaik bagi para umahat dan atau keluarga kita.
Bagi para orang tua dan para saudari/ra yang tinggal bersama anak/ saudari/ri yang sudah berkeluarga maka berikanlah yang terbaik kepada mereka dengan tidak ikut  campur didalam masalah RTnya.

Biarkanlah beliau-beliaunya mencuci baju, memasak, mengurus keuangan, mengurus anak-anaknya, mengurus suaminya/ istrinya, mengurus rumah dengan sendiri.

Yah,,,biarkanlah bagi yang diluarnya hanya membantu se-ala kadarnya dengan niat karena Allah SWT. dan untuk Allah SWT. tanpa  memiliki rasa niat sedikit-pun didalam hati untuk mengambil hak dan kewajiban dari seorang istri dan suami serta anak. Karena itulah yang terbaik bagi mereka.

Dengan demikian, ketika keluarga tersebut dilanda suatu permasalahan maka ia tidak akan keluar dari keluarga atau rumah tersebut,  artinya: istrinya adalah istri suaminya begitu pula sebaliknya, anaknya adalah anak ibu dan bapaknya.

Mereka akan menjadi satu keluarga yang utuh, yang tidak akan dapat diguncangkan oleh apapun. Mereka akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.

Para umahat, ukthtifillahrahimakumullah, dan para pembaca yang insyaAllah dirahmati Allah SWT...
semoga kita dapat mewujudkan RT yang sakinah, mawadah, dan warahmah sebagaimana yang tergambarkan di dalam penjelasan di atas...

Semoga bagi yang belum menikah mendapatkan laki-laki yang saleh yang membawanya ke dalam jannahNya...

Semoga CafetaIslamRia dapat bermanfaat  dan menjadi pintu hidayah...

Amin ya Rabb...

Wassalam.
Wallahua’lam bishawab

By
NR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stop Membebek !!! Valentine Day, Bukan Hari Raya Islam & Bukan Pula Budaya Islam

Tanggal 14 Februari merupakan sebuah momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat dunia pada saat ini. Walhasil, tanggal 14 Februar...